Rabu, 30 Oktober 2013

Menghilangkan Bulan




Pagi yang tak biasa, kira-kira 15 menit menjelang subuh bagi sebagian penghuni desa sedang lahap menyantap hidangan sahur, tak ada hujan maupun angin tiba-tiba mati lampu atau bahasa inggrisnya oglangan. Rumah-rumah yg biasanya terang akan cahaya lampu Philip kini mendadak gelap gulita tanpa warna. Ada yang berteriak protes tapi tak sampai mengumpat mungkin karena mau puasa, tak sedikit juga yg mencari selimut dan kembali tidur selepas sahur karena pagi itu memang cukup dingin. Kutarik nafas panjang dan perlahan terhempas halus mengikuti irama malam menjelang subuh, sembari menutup al quran bibir ini berucap gagal satu juz nya.

Beranjak dari kamar kecil nan gelap berjalan perlahan merayap berpegangan dinding yg agak dingin mencoba mencari phone cell untuk sedikit mencari cahaya agar tak terbentur tiang rumah. Nampaknya daya ingat ini mulai berkurang, belum pikun sudah tua gerutuku dalam hati saat tak juga kutemukan hape yg baru 2 bulan lalu kubeli. Kuputuskan untuk mencari daun pintu keluar dan berjalan menuju masjid, lima langkah dari halaman kutengadahkan wajah dan aku menyesal. Kenapa tadi harus menggerutu, menarik nafas dalam-dalam seolah ada yang salah saat mati lampu, padahal sejatinya Alloh hendak menunjukkan kuasanya menciptakan alam raya penuh dengan kesempurnaan karena Ia telah sempurna pengetahuan dan kuasaNya.

Rembulan terlihat syahdu dua pertiga hampir bulat penuh, cahayanya putih kekuningan semburat jingga nampak teduh di malam ke 12 Ramadhan. Taburan bintang kerlap-kerlip tak beraturan menjadikanku sulit melukiskan keindahannya. Mana mungkin otak manusia dapat mencerna langit dan alam raya yg super sangat indah ini di ciptakan hanya dalam 6 hari jika tanpa iman di dada. Konon para nelayan di tengah laut dan musyafir di tengah padang tandus dapat menentukan arah mana jalan pulang hanya dengan memandang bintang di langit. Ilmu astronomi kata temen kuliah yg jurusan fisika dulu menjelaskan tanda-tanda alam dilangit yg dapat dijadikan acuan arah, hitungan bulan dan sebagainya. Maha suci engkau ya Robby dgn segala ciptaanMu.

Hampir saja aku menghilangkan bulan dengan segala keindahanya hanya karena mati lampu, aku lupa bahwa tak ada se ujung kuku nikmat listrik yg sejenak di padamkan dibanding dengan malam penuh bintang lengkap dengan rembulannya. Ampuni hamba dengan segala keluh kesah, astaghfirullah haladzim. Ku ayunkan kaki penuh syukur menuju rumahmu untuk bersujud sebagai hamba yg hanya tunduk padamu. Memang tak ada penerangan jalan lagi, namun cahaya bulan dan bintang sudah dapat membedakan mana jalan mana selokan.

Sesampai di masjid seperti rumah-rumah lain di kampung masjidpun masih gelap gulita, hanya kulihat bayangan putih sepinggang orang dewasa, tak terpikir bahwa itu sekelas suster ngesot/kramas dan sejenisnya karena warna putih tadi ternyata balutan sarung dengan atasan batik sang Muadzin.  Tanpa penerangan sedikitpun sang muadzin pun mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara, layaknya bilal bin rabah masa ke emasan islam dulu. Dengan penerangan lilin yg dibawa pakde darto Jamaah subuh pun dimulai, tak lebih 1 shaff jamaah laki-laki sang imampun tetep bersemangat dengan bacaan fatihah nya. Begitu selesai ayat ke 7 di bacakan dengan penuh penghayatan dan lantang barisan makmumpun bersuara Aaaaamiiiiiiinn... entah saking semangatnya atau memang ada angin mampir di masjid lilin sebagai satu-satunya peneranganpun padam, sungguh indah sekali jamaah subuh pagi itu.

Tidak seperti biasanya jika selesai sholat ada kuliah subuh, kali ini tak ada yg berdiri depan mimbar entah karena tidak ada pengeras suara atau karena dosen kuliah subuhnya jadi malas akibat jamaahnya sedikit. Dengan menahan dingin semilir angin pagi kususuri jalan pulang, berjalan di kegelapan sendiri melambungkan anganku semasa kanak-kanak dulu. Yaa masa kecil dulu ikut ngaji di masjid selepas maghrib, waktu belum ada listrik masuk desa, jalan masih batu macadam dan tanganku tak pernah lepas dari teman yg membawa obor untuk jalan pulang karena takut gelap.
Anehnya justru di usia yg tak lagi muda malah suka di kegelapan, entah sebagai pelarian dalam kesendirian atau bersembunyi dari kenyataan. Atau bisa jadi di kegelapan dapat menikmati indahnya bintang yg tak terhingga jumlahnya, seperti keinginan manusia jika di turuti takkan ada habisnya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar