Pagi yang tak biasa, kira-kira 15 menit menjelang subuh bagi
sebagian penghuni desa sedang lahap menyantap hidangan sahur, tak ada hujan
maupun angin tiba-tiba mati lampu atau bahasa inggrisnya oglangan. Rumah-rumah
yg biasanya terang akan cahaya lampu Philip kini mendadak gelap gulita tanpa
warna. Ada yang berteriak protes tapi tak sampai mengumpat mungkin karena mau
puasa, tak sedikit juga yg mencari selimut dan kembali tidur selepas sahur
karena pagi itu memang cukup dingin. Kutarik nafas panjang dan perlahan
terhempas halus mengikuti irama malam menjelang subuh, sembari menutup al quran
bibir ini berucap gagal satu juz nya.
Beranjak dari kamar kecil nan gelap berjalan perlahan
merayap berpegangan dinding yg agak dingin mencoba mencari phone cell untuk
sedikit mencari cahaya agar tak terbentur tiang rumah. Nampaknya daya ingat ini
mulai berkurang, belum pikun sudah tua gerutuku dalam hati saat tak juga
kutemukan hape yg baru 2 bulan lalu kubeli. Kuputuskan untuk mencari daun pintu
keluar dan berjalan menuju masjid, lima langkah dari halaman kutengadahkan
wajah dan aku menyesal. Kenapa tadi harus menggerutu, menarik nafas dalam-dalam
seolah ada yang salah saat mati lampu, padahal sejatinya Alloh hendak menunjukkan
kuasanya menciptakan alam raya penuh dengan kesempurnaan karena Ia telah
sempurna pengetahuan dan kuasaNya.
Rembulan terlihat syahdu dua pertiga hampir bulat penuh,
cahayanya putih kekuningan semburat jingga nampak teduh di malam ke 12
Ramadhan. Taburan bintang kerlap-kerlip tak beraturan menjadikanku sulit
melukiskan keindahannya. Mana mungkin otak manusia dapat mencerna langit dan
alam raya yg super sangat indah ini di ciptakan hanya dalam 6 hari jika tanpa
iman di dada. Konon para nelayan di tengah laut dan musyafir di tengah padang
tandus dapat menentukan arah mana jalan pulang hanya dengan memandang bintang
di langit. Ilmu astronomi kata temen kuliah yg jurusan fisika dulu menjelaskan
tanda-tanda alam dilangit yg dapat dijadikan acuan arah, hitungan bulan dan
sebagainya. Maha suci engkau ya Robby dgn segala ciptaanMu.
Hampir saja aku menghilangkan bulan dengan segala keindahanya
hanya karena mati lampu, aku lupa bahwa tak ada se ujung kuku nikmat listrik yg
sejenak di padamkan dibanding dengan malam penuh bintang lengkap dengan
rembulannya. Ampuni hamba dengan segala keluh kesah, astaghfirullah haladzim.
Ku ayunkan kaki penuh syukur menuju rumahmu untuk bersujud sebagai hamba yg
hanya tunduk padamu. Memang tak ada penerangan jalan lagi, namun cahaya bulan
dan bintang sudah dapat membedakan mana jalan mana selokan.
Sesampai di masjid seperti rumah-rumah lain di kampung
masjidpun masih gelap gulita, hanya kulihat bayangan putih sepinggang orang
dewasa, tak terpikir bahwa itu sekelas suster ngesot/kramas dan sejenisnya
karena warna putih tadi ternyata balutan sarung dengan atasan batik sang
Muadzin. Tanpa penerangan sedikitpun
sang muadzin pun mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara, layaknya bilal bin
rabah masa ke emasan islam dulu. Dengan penerangan lilin yg dibawa pakde darto
Jamaah subuh pun dimulai, tak lebih 1 shaff jamaah laki-laki sang imampun tetep
bersemangat dengan bacaan fatihah nya. Begitu selesai ayat ke 7 di bacakan
dengan penuh penghayatan dan lantang barisan makmumpun bersuara Aaaaamiiiiiiinn...
entah saking semangatnya atau memang ada angin mampir di masjid lilin sebagai
satu-satunya peneranganpun padam, sungguh indah sekali jamaah subuh pagi itu.
Tidak seperti biasanya jika selesai sholat ada kuliah subuh,
kali ini tak ada yg berdiri depan mimbar entah karena tidak ada pengeras suara
atau karena dosen kuliah subuhnya jadi malas akibat jamaahnya sedikit. Dengan
menahan dingin semilir angin pagi kususuri jalan pulang, berjalan di kegelapan
sendiri melambungkan anganku semasa kanak-kanak dulu. Yaa masa kecil dulu ikut
ngaji di masjid selepas maghrib, waktu belum ada listrik masuk desa, jalan
masih batu macadam dan tanganku tak pernah lepas dari teman yg membawa obor
untuk jalan pulang karena takut gelap.
Anehnya justru di usia yg tak lagi muda malah suka di
kegelapan, entah sebagai pelarian dalam kesendirian atau bersembunyi dari
kenyataan. Atau bisa jadi di kegelapan dapat menikmati indahnya bintang yg tak
terhingga jumlahnya, seperti keinginan manusia jika di turuti takkan ada
habisnya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar