Rabu, 18 Desember 2013

Melebur Kenakalan Pelajar Dengan E-Learning



Perilaku buruk dari anak-anak dan remaja di beberapa kota di Indonesia akhir-akhir ini cenderung meningkat, baik kuantitas maupun kualitas. Perilaku buruk atau kenakalan tersebut berupa tawuran dan perilaku menyimpang remaja di dunia online, maupun perilaku nyleneh lainya seolah bak jamur di musim semi, tak ada habisnya. Intensitas pemberitaan yang aktual menjadikan kenakalan remaja semakin menjadi perhatian serius. Upaya pencegahan dan kuratif terhadap kenakalan tersebut bukan tidak di lakukan, justru bervariatif dan melibatkan banyak pihak mulai dari akademisi yang melakukan survey dan penelitian, guru dan orang tua yang peduli dan perhatian, sampai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bahkan telah megeluarkan semua kemampuan terbaiknya. Namun demikian acapkali masih terlihat masalah pelik bagi penerus bangsa tersebut.
Di belahan dunia manapun pendidikan adalah sarana untuk menyiapkan pemangku masa depan di setiap jengkal lini bangsa yang berdaulat, adil dan makmur. Artinya, remaja yang notabene adalah pelajar/siswa di sekolah merupakan tunas-tunas bagi masa depan bangsa. Pendidikan yang benar, tepat dan bervisi tajam kedepan akan menjadi kunci hitam putihnya kehidupan bangsa di masa yang akan datang.
Guru sebagai media yang menjembatani ilmu dan pelajar, perannya sangat strategis dan menentukan. Bagaimana guru mampu mengejawantahkan ilmu dalam kehidupan nyata kemudian menyampaikannya kepada anak didik dan memastikan bahwa yang disampaikan di pahami sebagaimana mestinya. Tidak cukup sampai disitu, akurasi memandang masa depan dan mengantisipasinya dengan pembelajaran yang kritis, aktual dan selangkah lebih di depan dari masa kini akan menghasilkan tunas-tunas unggul bagi bangsa.
Media yang menjembatani ilmu dan anak didik tentunya bukan hanya guru semata. Fasilitas yang update dan melek teknologi akan menjadi sarana yang memadai bagi terpenuhinya kegiatan belajar mengajar yang efektif. Electronic Learning (E-Learning) adalah cara baru dalam proses belajar mengajar yang merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan E-Learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung (Wikipedia.org).
E-Learning di Indonesia saat ini baru populer pada kalangan berpendidikan tinggi. Hal ini tentu akan membutuhkan effort yang lebih untuk menjadikan E-Learning menjadi budaya, bukan hanya pada kalangan penduduk berpendidikan tinggi karena faktanya bahwa pendidikan dasar 9 tahun dan 3 tahun pendidikan menengah merupakan populasi terbesar peserta didik di Negara agraris ini.
Hambatan pertama bagi E-learning adalah (tanpa mengurangi rasa hormat saya), Guru. Hambatan bukan dalam arti pola pikir dan kemampuan guru dalam mengajar, tetapi lebih pada kondisi obyektif yang membuktikan bahwa Guru belum mendapat perhatian lebih dari sisi kesejahteraanya. Mereka yang telah mengabdi dengan segenap kemampuan yang dimiliki bahkan nyaris tanpa pamrih demi masa depan bangsanya rela memberikan apa saja demi anak didiknya. Walaupun di sisi lain ada ironi oknum Guru yang telah mendapat fasilitas lebih untuk kesejahteraanya berupa sertifikasi dan sejenisnya, tidak menjadikan sarana tersebut untuk mengupgrade kemampuan diri tapi justru memenuhi hasrat gaya hidup hedonis.
Kembali pada pokok persoalan, bahwa E-learning membutuhkan kemampuan guru dalam pemutakhiran bahan ajar yang lebih sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, tentu Guru harus mampu menguasai tools E-learning agar dapat mendapatkan respect dari anak didiknya. Hal ini tentu membutuhkan semacam pelatihan dari professional, artinya kerja keras Guru yang sudah berjalan mesti di tambah dengan beban untuk belajar lagi.
Bicara E-learning tentu tak dapat di lepaskan dari teknologi informasi (baca IT), dan pasti semua setuju ketersediaan dan daya dukung IT di Indonesia sangat mudah di dapat semudah beli kacang goreng. Sehingga, model E-learning apapun tidak akan menjadi kendala dari sisi fasilitas yang dibutuhkan. Bagaimana dengan biaya? walau belum sepenuhnya berjalan tapi kita tahu bahwa 20% APBN adalah porsi bagi pendidikan di Indonesia.
Pada akhirnya kita akan menemukan fokus pertanyaan, bagaimana menarik added value dari E-learning sebanyak-banykanya hanya dengan satu hambatan yaitu Sumber Daya Manusia (SDM). Poin inilah yang menarik dan menimbulkan tantangan yang tidak mudah di “jinakkan”. Namun bukan berarti mustahil, bahkan sangat mungkin mewujudkan E-learning dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Anggap sebagai kesimpulan berikut, bagaimana kita meredam dengan mengalihkan hobi negatif kenakalan remaja dengan E-learning yang menjangkau gejolak jiwa “berontak” remaja lalu menjadikan ia haus dan lapar akan ilmu pengetahuan.
SDM yang merupakan stake holder dari dunia pendidikan akan dapat memahami dan tergerak sepenuh hati mengoptimalkan E-learning jika di berikan informasi yang memadai dengan pendekatan yang tepat.
Edukasi kepada Guru tanpa menggurui agar lebih melek teknologi akan menghilangkan beban tanggung jawab dan justru akan melecut semangat untuk lebih mengabdi pada ilmu pengetahuan melalui dunia yang berbeda dari jaman ketika beliau-beliau mendapatkan ilmu di bangku sekolah yang pada jaman tersebut dunia maya sangat asing di Indonesia.
Dengan pasti dan tanpa dapat di manipulasi ketika melakukan pretest maupun bentuk ujian lain yang secara otomatis dapat melihat ”nilai” dari peserta didik dengan sangat obyektif dan saklek tanpa melihat subjeknya tentunya akan menambah keakuratan database suatu pembelajaran.
Peserta didik dapat menunjukkan bakat lain selain nilai exacts melalui forum tertentu (social media E-Learning) yang lebih dominan dalam penyampaian argumentasi-argumentasi ilmiah dalam bidang ilmu sosial. Dimana ada poin tertentu ketika aktif dan memiliki akurasi keilmiahan.
Dengan kemasan yang edukatif dan mengadop media soial yang makin marak di kalangan remaja akan membuat snowballing effect pelajar pada kecanduan ilmu pengetahuan di dunia maya dan perlahan tapi pasti meninggalkan kebiasaan buruk kenakalan remaja.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar