Selasa, 29 September 2015

Kenapa Berhijrah dengan Keuangan Syariah

Berkecimpung di kegiatan ekstrakurikuler kemahasiswaan di kampus tegalboto fakultas ekonomi mengantarkanku mempelajari hal baru dan hits pada saat itu penghujung tahun 2004 yakni keuangan syariah. Mulai dari seminar, temu ilmiah hingga group diskusi saya ikuti untuk menngcompare ilmu ekonomi konvensional yang jadi makanan sehari-hari di bangku kuliah. Tokoh ekonomi syariah dari lokal hingga nasional seolah belum cukup untuk menghilangkan dahaga keingintahuanku akan ekonomi syariah tersebut, tak ayal tokoh kenamaan kampus seperti DR. Fathurazi, Prof. DR Suroso hingga Adiwarman Karim menjadi mediator atau penghantar ilmu yang berkompeten menjadi idola. Sejarah pemikiran ekonomi syariah memang lekat dengan islam, mulai dari Nabi Yusuf sang ahli logistic Negara, Nabi Muhammad sebelum dinobatkan menjadi nabi beliau adalah bebisnis ulung hingga Abdurahman bin Auf yang mampu menciptakan peluang bisnis sekecil apapun untuk menjadi besar dan luarbiasa. Sebenarnya bukan hanya pada tokoh pencetus dan pelaku bisnisnya saja yang membuat ekonomi syariah layak menjadi problem solving. Tetapi juga karena prinsip mulia yang ada pada ekonomi maupun keuangan syariah. Diantara pripsip itu yakni Tauhid (penghambaan terhadap Tuhan) di Indonesia dikenal sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa artinya kegiatan ekonomi idealnya bisa menjadi bentuk beribadah kepada Tuhan jika di lakukan dengan kejujuran. Ada juga prinsip Kemaslahatan untuk mencapai taraf hidup yang mulia, artinya kemuliaan dari ekonomi syariah adalah ketika mampu memberi manfaat kepada banyak manusia. Ada juga prinsip keadilan dan beberapa prinsip lainnya, dari pengetahuan ilmu ekonomi syariah yang secuil itu saya benturkan dengan kondisi riil di masyarakat khususnya bidang agrobisnis untuk melihat peran dan kontribusi perbankkan syariah di sector tersebut. Dari karya ilmiah yang tertuang di secarik kertas itu kuraih Juara 2 Lomba menulis Perbankan Syariah yang di selenggarakan BI Jember dan berhadiah Tabungan di salah satu bank syariah. Wawww saat itu rasanya bak ketiban durian runtuh, bagaimana tidak sudah lama memendam keinginan untuk berhijrah dari yang belum sesuai prinsyip syariah menjadi sesuai atau minimal mendekati. Usai memiliki rekening di bank syariah, kegiatan sebagai aktivis kerohanian menjadi pede, khususnya untuk berdiskusi tentang segala hal tentang keuangan syariah maupun ekonomi syariah. Bahkan lebih dari itu, dari relasi dengan perbankan syariah tersebut acapkali mengadakan kerjasama dengan keuangan syariah untuk lebih memasyarakatkan prinsip-prinsip dan implementasi keuangan syariah sebagai salah satu problem solving kegiatan ekonomi masyarakat bahkan untuk mendobrak krisis ekonomi. Dari situlah awal interaksiku dengan keuangan syariah, terasa adem, bangga dan selangkah lebih maju karena bukan cuma omong atau belajar doang tapi juga praktek berhijrah. Banyak sukanya berinteraksi dengan keuangan syariah, 1 bebas riba, 2 saldo kita tidak pernah di potong biaya, pelayanannya menyejukkan. Tapi juga ada masalah ATM yang di berikan kadang-kadang trouble atau bermasalah, tarik tunai uangnya tidak keluar tapi saldonya berkurang. Atas permasalahan tersebut alhamdulillah customer service Bank syariah sangat care dan mempermudah proses koreksi atas transaksi tersebut tanpa berbelit. Di tambah dengan senyum manis khas CS dan menyatukan telapak tangan di depan dada sembari berucap assalamualaikum ada yang bisa kami bantu. Mungkin sederhana tapi bagi mahasiswa fakultas ekonomi yang terbiasa lihat wanita berdandan menor lagi berlebihan, CS dengan tampilan sederhana dan lembut ucapanya bagai oase di padang tandus. Cielah
iB Blogger Competition

Minggu, 28 Desember 2014

BENCANA vs PERAYAAN TAHUN BARU

Sebentar lagi tahun baru 2015, lumrah dan menjadi kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia untuk menyambutnya dengan pesta dan hura-hura. Mulai dari pesta kembang api, konser disertai minuman keras (memabukkan), bahkan pesta sex pun acapkali menjadi headline pemberitaan surat kabar kala menyambut tahun baru. Hampir tak pernah terdengar kegiatan positif dalam menyambut tahun baru. Padahal kalau kita menilik beberapa musibah yang terjadi di bumi pertiwi idealnya menohok hati kita untuk berintropeksi diri, mawas diri dan memperbaiki apa yang belum baik. Bukan menghambur-hamburkan waktu tenaga dan biaya untuk merayakan tahun baru. Banyak yang bilang namanya juga setahun sekali kenapa enggak? Kalau di telisik pertanyaan yang amat konyol, bukankah tanggal 1 Desember juga setahun sekali, bukankah rabu legi tgl 7 November jg setahun sekali? Kenapa ga berhura-hura setiap hari saja kalau begitu. Ada juga yang menyebut musibah yang menimpa dengan sikap dan pernyataan bahwa alam sudah tidak bersahabat dengan kita. Are u sure? Alam yang tidak bersahabat, coba tengok siapa yang membangun vila di lahan resapan air di lereng gunung? Siapa yang membangun rumah di bantaran sungai, siapa yang membuang sampah di sungai? Kucing yang melakukannya? Nggak man… justru manusia yang kurang bersahabat dengan habitatnya. Menginjak-injak taman saat merayakan tahun baru, buang sampah sembarangan, membunyikan petasan dimana-mana hingga sampah berceceran. Dengan jujur mari kita buka buku kita di tahun 2014. Kita list dari angka 1 apa saja capaian atau keberhasilan yang telah kita capai ada berapa. Kemudian kita komentari keberhasilan itu apakah 100% usaha kita tanpa bantuan orang lain, keluarga juga Tuhan? Kemudian kita list berapa kegagalan demi kegagalan yang kita temui? Apa kah kita sudah memperbaiki kegagalan dan kesalahan kita 2014? Tidak ada manfaat dengan merayakan tahun baru dengan menghabiskan waktu menunggu jam 00.00 dan berpesta sebelum dan sesudahnya. Akan lebih bijak jika anggaran yang kita keluarkan untuk memperingati tahun baru tersebut kita share dengan saudara-saudar sebangsa yang terkena musibah Banjir, familinya hilang bersama airasia mungkin juga dengan korban kebakaran pasar klewer atau musibah longsor yg banyak terjadi akhir-akhir ini. Jika niat rekan-rekan sudah bulat untuk merayakan tahun baru dengan berpesta menghabiskan uang untuk petasan dan lainnya tolong nyalakan kembang api dan petasan dirumah/kamar kalian saja. Silakan di nikmati sendiri, saya dan beberapa warga yang terkena berbagai musibah ora sudi melihatnya. Untuk media elektronik saya berharap tidak ada yang menyiarkan acara pesta tahun baru agar saudara-saudara kita yang terkena musibah tidak melihat orang-orang yang berpesta di kala mereka berduka.

Sabtu, 06 Desember 2014

Formulir SPT 1770 Tahun 2014 terupdate

Selamat Malam Pemirsa Buat yang lagi butuh Formulir SPT 1770 terupdate tahun 2014 berupa file exel, sudah saya siapkan bisa di downdload gratis. Kalau udah berhasil download tapi belum tau cara mengisinya tunggu ya manual book panduan mengisi Form SPT 1770 Tahun 2014 hanya di Sistoptax.blogspot. Bagi yang ga mau ribet baca buku panduan silakan Hubungi orang ganteng berikut ini di no 082138669515 akan selalu siap membantu Monggo di Download Formulir SPT 1770 Tahun 2014 https://docs.google.com/spreadsheets/d/1f1QHZ_EssOQ35QFmhtbgHs921WjzGw7M5CaGz7PtoJE/edit?usp=sharing

Senin, 29 September 2014

Fun Experience with Central Springbed in Sundak Beach Gunung Kidul




http://www.kontesid.com/2014/09/central-springbed-blog-competition.html


Schedule pekerjaan yang padat, day by day bahkan menit demi menit. Bisingnya kota yang hampir tidak tidur 24 jam, kejaran waktu tak bisa terelakkan. Hidup memang keras dan menantang, kesiapan dan daya juang menjadi penentu kita menang atau menjadi pencundang. Laksana bilangan biner hanya ada angka 0 dan 1, angka 1 artinya kita bertahan dan 0 berati melambaikan dua tangan ke kamera “menyerah”.
Terkadang kita perlu berhenti sejenak, bisa berfikir atau berelaksasi di hamparan pantai dengan FunExperience with Central Springbed, melihat ranumnya matahari ketika tenggelam ooh amazing. Pantai yang masih perawan, keamanan pantai yang terjaga karena penduduk setempat yang amat menjunjung tinggi local wisdom. Menjadikan siapapun yang disana tak ingin beranjak dari posisinya ketika matahari sudah tenggelam, menjadi lengkap Fun Experiencewith Central Springbed di malam hari dimana bulan menggantikan indahnya sun side, atau di malam-malam tertentu bak percikan bintang tak terhitung bergelanyutan di angkasa.
Sepertinya tak  ada lagi masalah dan tumpukan pekerjaan yang datang menghampiri setiap hari.  Semua berganti dengan kenyamanan dan keindahan. Bukan hanya karena suasana pantai dan keindahan alamnya, central springbed tidak cuma menjadi alas berbaring tetapi menghadirkan kenyamanan ganda. Central Spring Bed dirancang khusus dengan teknologi Posturematic, yang disesuaikan dengan beban dan lekuk tubuh pada saat Anda tidur.
Sensasi yang saya rasakan benar-benar Fun Experience withCentral Springbed, menjadi tak terlupakan ketika malam bikin ikan bakar. Walau ikan bakarnya gosong rasanya tetep maknyyuss merasakan kenyamanan travel bed central springbed. Semilir angin pantai yang dingin dan empuknya central springbed membawaku jauh di indahnya mimpi malam di pinggir pantai.

Jumat, 18 Juli 2014

Capresku sombong?



“Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.” Seorang laki-laki bertanya :”Sesungguhnya ada seseorang yang menyukai supaya bajunya bagus dan sandalnya bagus.” Nabi menjawab : “Sesungguhnya Alla itu Indah, Dia menyukai keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.”
Jadi inget pilpres 2014 di Indonesia, jika sombong adalah menolak kebenaran kira-kira kedua capres yg bertarung bak final piala dunia ini apakah termasuk dalam kriteria sombong tersebut. Wallohualam bi showab. Mungkin karena quick count dan real count versi partai nya yg ga bener jadi nampaknya kedua capres belum termasuk sombong.
Di saat ramadhan seperti ini Alloh mengobral ijabah atas doa-doa manusia di beriman yang berpuasa. Bagi yang merindukan pemimpin yang dapat membedakan mana yang haq dan batil, pemimpin yang mengayomi rakyatnya dan berusaha sepenuh jiwa raga mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Ayo jangan sok menggurui untuk menerima kekalahan padahal perhitungan suara belum usai.
Berteriak lantang di curangi padahal tak punya bukti bahkan saksi yg di bayar ratusan ribu pun tak membuat laporan di curangi. Hentikan mengaku menang saat pertandingan belum usai, hentikan menyuruh mengaku kalah saat wasit belum meniup peluit. Bahkan semenit sebelum adzan magrib pun dapat membatalkan puasa jika kita mendahului berbuka.

Pojokan masjid As SYukur
Di 1/3 akhir Ramadhan

Jumat, 11 Juli 2014

Antara Pilpress, Rama dan Rahwana



Jika masih ingat kisah Rama dan Rahwana, kira-kira jawaban apa saat ada pertanyaan kenapa Rama dan Rahwana berebut Sinta? Jawaban menggelitik tentunya karena kulit Santi tak seputih Sinta hehe bukan gombalan ya.
Tatkala Rahwana jatuh hati pada Sinta menjadi keniscayaan baginya untuk memiliki wanita lembut nan cantik bak gitar spanyol. Tak peduli itu istri orang atau bukan, asal suka dibumbuin cinta buta kejar deh sampai dapat, ini karena dulu blm ada lagu cinta tak harus memiliki. Sadar bahwa wajahnya tak setampan Rama apalagi ariel noah, rahwanapun membuat aksi tipu-tipu dengan menjelma menjadi kijang (bkn merk mobil). Jangankan sinta si wanita ayu rupawan, anak kecil, muda tua yg lewat istana bogor hampir pasti semua akan menepi ke pagar beli wortel dan sayuran lain untuk di jadikan umpan agar kijang2 di istana mau mendekat.
Taktik Rahwana berhasil Sinta tergoda dan jatuh dipelukan Rahwana yg berujud kijang, ini adalah gambaran kegigihan mempertahankan dan meraih cinta, sayang cara yg di ambil salah. Tapi perlu di apresiasi usahanya mendapatkan cintanya. ciee pesen moral. Segera setelah berhasil menculik Sinta Rahwana langsung jumpa pers di Tugu Eifel berkacak pinggang mengepalkan tangan dan teriak Merdekaaa mengumumkan kemenangannya.
Bak di sambar petir di siang bolong, Rama tahu istri tercinta di culik Rahwana dan di bawa lari ke negri Alengka. Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap gunung meletus hutan terbakar oooo. Tanpa pikir panjang di istana yang megah Rama pun menggelar jumpa pers tak kalah lantang berteriak kepada pasukan kera “Segera Bumi Hanguskan Alengka jangan sampai ada secuil rumputpun yg hidup di bumi alengka sekali lagi hanguskan Alengka dan rebut kembali Sinta yg semlohai”.
Tak butuh 100% suara sah masuk, 60% sudah cukup bagi Rama dan Rahwana mengumumkan kemenangannya mendapatkan Sinta. Seolah titah belum selesai di tulis juru ketik pasukan kera yg dipimpin hanoman sudah siap siaga dengan senjata lengkap membumi hanguskan alengka. Satu pesan yg lekat di kepala hanoman tak sebatang rumputpun boleh hidup di bumi alengka. Benar adanya titah dilaksanakan ia bumi hanguskan alengka hanya untuk merebut sinta dari tangan rahwana.
Tak berdaya Rahwana membendung pasukan kera ia kalah telak menurut quick count versi yg tertukar. Sinta kembali kepelukan Rama, apa daya Rama sudah terlanjur terbakar api cemburu ia tak mau menerima sinta. Cium kaki sampai sembah dari Sinta tak di Gubris oleh Rama permintaan maaf hanya dapat di buktikan dengan upacara membakar diri. Jika terbakar maka Sinta tak suci lagi. Ibarat lagunya didi kempot mabur tanpa sewiwi, njejak tanpa cutang n jajan tanpa bayar loh???
Ternyata cinta yg terlalu bukan hanya membutakan rahwana, Rama pun buta. Sinta yg dia rebut dengan membumi hanguskan alengka tidak ia maafkan bahkan diminta membuktikan dengan membakar diri! Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap gunung meletus hutan terbakar oooo
Setali tiga uang dengan perhelatan pilpres di negriku tercinta Indonesia raya. Peluit akhir belum di tiup KPU dua calon sudah membusungkan dada sebagai wujud kesombongan dan keangkuhan atas kemenangan tipis menurut survey yg tertukar. Kalau dua-duanya pengin menang saranku istana di Indonesia kan banyak ada istana Negara, istana bogor, istana tampak siring Bali pun juga istana giri bangun karanganyar. Silakan dipilih untuk kedua pasangan capres yg mengaku menang. Bagi kamu pendukung pasangan capres 1 or 2 iya kamu… apakah seperti itu pemimpin dambaanmu. Semua ngaku menang semua bilang data akurat berdebat kusir tanpa mau nunggu hasil factual kpu, ya robby ternyata calon pemimpin Indonesia tak ubahnya Rama dan Rahwana, rahwana yg buruk muka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sinta, rama yg sadis membumi hanguskan alengka hanya untuk merebut sinta yg akhirnya juga tidak ia beri maaf bahkan suruh bakar diri. Dan nampaknya kita salah pilih kawan…


Noted: tidak ada maksud SARA terhadap agama apapun atas tulisan ini

 

Rabu, 18 Desember 2013

Melebur Kenakalan Pelajar Dengan E-Learning



Perilaku buruk dari anak-anak dan remaja di beberapa kota di Indonesia akhir-akhir ini cenderung meningkat, baik kuantitas maupun kualitas. Perilaku buruk atau kenakalan tersebut berupa tawuran dan perilaku menyimpang remaja di dunia online, maupun perilaku nyleneh lainya seolah bak jamur di musim semi, tak ada habisnya. Intensitas pemberitaan yang aktual menjadikan kenakalan remaja semakin menjadi perhatian serius. Upaya pencegahan dan kuratif terhadap kenakalan tersebut bukan tidak di lakukan, justru bervariatif dan melibatkan banyak pihak mulai dari akademisi yang melakukan survey dan penelitian, guru dan orang tua yang peduli dan perhatian, sampai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bahkan telah megeluarkan semua kemampuan terbaiknya. Namun demikian acapkali masih terlihat masalah pelik bagi penerus bangsa tersebut.
Di belahan dunia manapun pendidikan adalah sarana untuk menyiapkan pemangku masa depan di setiap jengkal lini bangsa yang berdaulat, adil dan makmur. Artinya, remaja yang notabene adalah pelajar/siswa di sekolah merupakan tunas-tunas bagi masa depan bangsa. Pendidikan yang benar, tepat dan bervisi tajam kedepan akan menjadi kunci hitam putihnya kehidupan bangsa di masa yang akan datang.
Guru sebagai media yang menjembatani ilmu dan pelajar, perannya sangat strategis dan menentukan. Bagaimana guru mampu mengejawantahkan ilmu dalam kehidupan nyata kemudian menyampaikannya kepada anak didik dan memastikan bahwa yang disampaikan di pahami sebagaimana mestinya. Tidak cukup sampai disitu, akurasi memandang masa depan dan mengantisipasinya dengan pembelajaran yang kritis, aktual dan selangkah lebih di depan dari masa kini akan menghasilkan tunas-tunas unggul bagi bangsa.
Media yang menjembatani ilmu dan anak didik tentunya bukan hanya guru semata. Fasilitas yang update dan melek teknologi akan menjadi sarana yang memadai bagi terpenuhinya kegiatan belajar mengajar yang efektif. Electronic Learning (E-Learning) adalah cara baru dalam proses belajar mengajar yang merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan E-Learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung (Wikipedia.org).
E-Learning di Indonesia saat ini baru populer pada kalangan berpendidikan tinggi. Hal ini tentu akan membutuhkan effort yang lebih untuk menjadikan E-Learning menjadi budaya, bukan hanya pada kalangan penduduk berpendidikan tinggi karena faktanya bahwa pendidikan dasar 9 tahun dan 3 tahun pendidikan menengah merupakan populasi terbesar peserta didik di Negara agraris ini.
Hambatan pertama bagi E-learning adalah (tanpa mengurangi rasa hormat saya), Guru. Hambatan bukan dalam arti pola pikir dan kemampuan guru dalam mengajar, tetapi lebih pada kondisi obyektif yang membuktikan bahwa Guru belum mendapat perhatian lebih dari sisi kesejahteraanya. Mereka yang telah mengabdi dengan segenap kemampuan yang dimiliki bahkan nyaris tanpa pamrih demi masa depan bangsanya rela memberikan apa saja demi anak didiknya. Walaupun di sisi lain ada ironi oknum Guru yang telah mendapat fasilitas lebih untuk kesejahteraanya berupa sertifikasi dan sejenisnya, tidak menjadikan sarana tersebut untuk mengupgrade kemampuan diri tapi justru memenuhi hasrat gaya hidup hedonis.
Kembali pada pokok persoalan, bahwa E-learning membutuhkan kemampuan guru dalam pemutakhiran bahan ajar yang lebih sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, tentu Guru harus mampu menguasai tools E-learning agar dapat mendapatkan respect dari anak didiknya. Hal ini tentu membutuhkan semacam pelatihan dari professional, artinya kerja keras Guru yang sudah berjalan mesti di tambah dengan beban untuk belajar lagi.
Bicara E-learning tentu tak dapat di lepaskan dari teknologi informasi (baca IT), dan pasti semua setuju ketersediaan dan daya dukung IT di Indonesia sangat mudah di dapat semudah beli kacang goreng. Sehingga, model E-learning apapun tidak akan menjadi kendala dari sisi fasilitas yang dibutuhkan. Bagaimana dengan biaya? walau belum sepenuhnya berjalan tapi kita tahu bahwa 20% APBN adalah porsi bagi pendidikan di Indonesia.
Pada akhirnya kita akan menemukan fokus pertanyaan, bagaimana menarik added value dari E-learning sebanyak-banykanya hanya dengan satu hambatan yaitu Sumber Daya Manusia (SDM). Poin inilah yang menarik dan menimbulkan tantangan yang tidak mudah di “jinakkan”. Namun bukan berarti mustahil, bahkan sangat mungkin mewujudkan E-learning dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Anggap sebagai kesimpulan berikut, bagaimana kita meredam dengan mengalihkan hobi negatif kenakalan remaja dengan E-learning yang menjangkau gejolak jiwa “berontak” remaja lalu menjadikan ia haus dan lapar akan ilmu pengetahuan.
SDM yang merupakan stake holder dari dunia pendidikan akan dapat memahami dan tergerak sepenuh hati mengoptimalkan E-learning jika di berikan informasi yang memadai dengan pendekatan yang tepat.
Edukasi kepada Guru tanpa menggurui agar lebih melek teknologi akan menghilangkan beban tanggung jawab dan justru akan melecut semangat untuk lebih mengabdi pada ilmu pengetahuan melalui dunia yang berbeda dari jaman ketika beliau-beliau mendapatkan ilmu di bangku sekolah yang pada jaman tersebut dunia maya sangat asing di Indonesia.
Dengan pasti dan tanpa dapat di manipulasi ketika melakukan pretest maupun bentuk ujian lain yang secara otomatis dapat melihat ”nilai” dari peserta didik dengan sangat obyektif dan saklek tanpa melihat subjeknya tentunya akan menambah keakuratan database suatu pembelajaran.
Peserta didik dapat menunjukkan bakat lain selain nilai exacts melalui forum tertentu (social media E-Learning) yang lebih dominan dalam penyampaian argumentasi-argumentasi ilmiah dalam bidang ilmu sosial. Dimana ada poin tertentu ketika aktif dan memiliki akurasi keilmiahan.
Dengan kemasan yang edukatif dan mengadop media soial yang makin marak di kalangan remaja akan membuat snowballing effect pelajar pada kecanduan ilmu pengetahuan di dunia maya dan perlahan tapi pasti meninggalkan kebiasaan buruk kenakalan remaja.

Kamis, 12 Desember 2013

Inget Hari Ibu



Pagi yang cerah penuh keindahan, senyuman seorang ibu selalu lebih menentramkan dari indahnya cuaca pagi. Kupacu motor kesayangan yg sudah 3 tahun setia mengantarkan tubuh ini mengais rejeki dengan doa tulus seorang Ibu. Jalanan pagi nampak mulus semulus kasih sayang pemilik surga di telapak kakinya, tak lupa terimakasih pada pejabat daerah yg telah menuntaskan masalah jalanan berlubang sejak lebih 3 tahun silam tak terjamah perbaikan.
Nikmatnya perjalanan pagi terganggu, risi rasanya saat beberapa pengendara lain bergantian memencet klakson seenak hidungnya hanya karena seorang wanita dengan motor butut membonceng dua keranjang (bronjong dlm bhs jawa) di sisi kiri kanan bagian motor belakang. Dari jarak 9m di sela-sela pegendara di depan kuamati isi dari keranjang tersebut penuh dengan sayuran, bumbu dapur, kerupuk, beberapa bungkus daging dan ikan juga jajanan pasar.
Lidah dan mata ini tertuju pada jajanan pasar yg tergantung dan tertata rapi di keranjang motor yg kini tepat di depan motorku. Getuk lindri, klepon ada juga onde-onde menjadi menu utama dan sering hadir di setiap sarapan pagiku, prasangka di hati berkata bahwa dari ibu dengan motor bututnya yg tepat di depanku ini jajanan tadi dibeli. Kutambah kecepatan motorku untuk mendahului pedagang sayur keliling itu, rasanya ada bagian hatiku yg teriris saat kulirik wanita setengah baya tersebut selain menuhin motornya dgn barang dagangan juga memangku gadis kecil berseragam TK.
Semakin teraduk empati kupastikan dari kaca sepion sebelah kanan, senyum penuh semangat nan innocent terpampang dr wajah gadis kecil berusia kira-kira 5 tahunan yg amat menikmati perjalan ke sekolahnya di pangkuan bunda dan tumpukan komoditas dapur. Di lihat dari seragam anaknya dan cara berpakaian wanita penjaja sayur tersebut ku pastikan pengetahuan agamanya mumpuni. Sembari menambah kecepatan kusempatkan sekali lirikan masih dari sepion kanan, tergantung rapi nan menggoda untuk di beli beberapa jenis minuman pasar seperti susu kedelai, dawet dan semacam jamu. Entah jamu galian singset atau merk lainya aku tak tau karena persis ku amati tak logo atau merek di bungkus plastic tersebut.
Rangkain pikiran penuh tanya menjalar di sisi otak kananku, kira-kira jam berapa wanita penjaja sayur itu bangun dari tidurnya, menuju pasar melewati jalan gelap, memenuhi keranjang dengan aneka dagangan, tak lupa tawar menawar harga dengan pengepul sayuran lalu pulang melewati jalan yg entah berapa ratus atau bahkan ribu kali di lewati lalu membangunkan anak gadisnya yg TK, mengantarnya sekolah dan entah berapa banyak aktivitas lain yg tak terpikirkan. Dan hampir saja lamunanku akan berakibat fatal karenahanya hitungan cm motorku berpapasan bis yg terkenal dgn ugal-ugalannya nyaris berserempetan.
Tergiang kisah sahabat yg bertanya pada nabinya, “Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)”
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14).
Entah apa yg melatar belakangi konggres wanita 85 th silam di Negara tercinta Indonesia, kini di abadikan menjadi Hari Ibu di salah satu tanggal di bulan Desember, yang jelas dapat ku artikan menjadi pengingat agar tiap saat tak lupa kita panjatkan “Allahummaghfirli waliwalidayya warkhamhuma kamaa rabbayani saghira”.

Dengan takzim ku sampaikan  I Love you too Ibu,
dan engkau selalu punya I Love you more
selamat hari IBU

Rabu, 30 Oktober 2013

Hadiah Untuk Ibu - Eramuslim

Hadiah Untuk Ibu - Eramuslim

Kupu-kupu di Penghujung Kemarau




Menikmati akhir pecan di penghujung musim kemarau dengan menjajal soto di warung yang terletak di ujung kampung.  Surprise banget saat tau si empunya warung ternyata mbak Ani, guru ngajiku semasa kecil. Kikuk awalnya menerima sajian soto dari orang yang sangat kuhormati, namun sikap dan tutur kata beliau yang ramah nan bersahabat menjadikan obrolan kecil menjadi begitu hangat. Ternyata satu dekade merantau membuatku tak begitu care dengan sesama warga kampung, dulu begitu hafal nama-nama warga dari ujung satu ke ujung kampung lainya, aku pasti tau dan mengenalnya. Kini guru ngajipun aku tak tahu kalau beliau punya rumah dan warung di ujung desa. Karena warungnya cukup ramai tak banyak pembicaraan di pagi yang membawa kupu-kupu indah hadir di bumi tercinta.
Begitu mbak ani meninggalkanku dengan semangkok soto, pikiranku seolah terbang ke masa kecil dulu, masih teringat dengan jelas saat beliau memarahiku karena sering terlambat. “sak jane dirimu iku pintar tapi kok ya telat ae kalau ngaji” tak berani kutatap wajah dari pemilik kalimat itu, sembari menunduk malu lagi takut dalam hati bergumam bahwa aku terlambat karena harus menggembala kambing punya kakek. Jika bulan agustus tiba dulu  biasa di TPA tempat mengaji dulu akan di gelar bermacam-macam lomba, mulai dari lomba adzan, hafalan sampai cerdas cermat dll. Herannya setiap perlombaan yang aku ikuti pasti menjadi pemenang walau tidak mesti no 1 setidaknya masuk 3 besar. Otomatis hadiah berupa buku dan peralatan tulis lainya sebagian besar menjadi hakku.
Namun lambat laun aku mengerti, bahwa kemenangan dalam lomba-lomba tersebut bukan karena kecerdasanku. Nyatanya sebagian besar teman ngaji dulu saat SMA berhasil masuk di SMA favorit sedangkan diriku hanya di SMA biasa itupun harus menunggu satu tahun agar kakakku lulus dulu dari sekolahnya. Ternyata hadiah-hadiah yang kudapat tersebut diperoleh karena aku tak mampu membeli peralatan baca tulis seperti teman-teman lainya, karena untuk perlengkapan sekolah saja seringkali kupakai bekas dari kakak atau tetangga sebelah. Entah bagaimana mbak ani tau keadaan ekonomiku yang pas-pasan, juga tak tau bagaimana cara ia memenangkanku dalam perlombaan itu.
Daerah tempat tinggal kami memang bukan daerah santri, justru dikenal dengan sebutan abangan yang orang umum mengartikan status islamnya hanya sebatas KTP dan seringkali menjadi joke kelak di hari akhir banyak ktp di surga tapi orangnya entah dimana. Saat para santri akan lulus dari juz amma (bukan juz ke 30 dari al quran) tetapi semacam buku iqra kalau sekarang, maklum karena dulu tidak ada dana untuk membeli buku pengantar anak-anak membaca al quran. Pilihan terbaik adalah guru ngaji (ustadz/ah) menuliskan contoh di papan tulis untuk di salin santri dan bergantian membacanya (anak alay sekarang pasti akan bilang “kacian banget”).
Inisiatif dari mbak ani yang mengharuskan para santri menabung agar kelak saat dapat membaca al quran kami juga mampu membelinya. Saat ini mungkin sebagian kita tak butuh nabung sekian bulan untuk dapat membeli al quran, mungkin juga tidak lebih mahal dari uang jajan anak SD satu atau dua minggu, tapi masa kecilku dulu berbeda. Al quran ibarat barang mewah, bagi kami butuh perjuangan untuk memilikinya. Saat tiba kami dapat mengeja dan membaca al quran para santri penuh harap dan tidak sabar ingin memegang dan membaca ayat-ayat suci firman Allah dalam kitab yang hanya dengan menabung tadi dapat terbeli. Pada waktu pembagaian al quran aku tak seantuisias dan sesemangat teman-teman yang lain, karena sadar tabunganku belum cukup untuk menebus kitab itu, kalau tidak salah ingat 4 atau 5ribu kekurangannya.
Mendengar dan melihat riuh ramai para santri aku terdiam di pojok barisan belakang, ingin rasanya berlari pulang minta uang ke Ibu di rumah, tapi tak kulakukan karena tahu jangankan uang, beras untuk di masak sore itu pun belum tentu ada, sedangkan ayah sedang jauh di kota lain bekerja keras memeras keringat menjemput rejeki. Dan teman sekaligus tetangga depan rumah sudah berjanji akan meminjamkan kitabnya saat aku nanti mendapat giliran membaca, jadi kuputuskan bersabar duduk diam agar tak ada seorangpun tau kalau tabunganku belum lunas. Di tengah kegalauan hati tiba-tiba seperti mendapat durian runtuh saat namaku di panggil mbak ani untuk di beri kitab yang sudah lama kuimpikan tersebut. Sengaja kuterima kitab itu dengan senyum dan tidak memberitahukan kepadanya kalau tabunganku belum lunas karena takut kalau ketahuan bakal tidak dikasih kitabnya.
Begitu halus dan mulia caramu menyembunyikan aib kemiskinan salah satu muridmu ini, memberikan sedekah dibalut hadiah prestasi. Kemulian hati menempatkan tangan di atas lebih baik dari pada memasang tarif saat membagi ilmu yang akhir-akhir ini santer terdengar. Karena kemurahan hati itu setelah menerima kitab aku berjanji dalam hati akan melunasinya, dari uang saku sebesar 100 rupiah itupun seminggu sekali diberikan orangtuaku saat ada mata pelajaran olah raga, kusimpan baik-baik di bawah bantal. Di tambah aktif ikut takziah mengantar jenasah yang di pikul aku selalu berada dekat pada yang menaburkan bunga di sepanjang jalan kearah kuburan, akan dengan sigap ku ambil recehan yang di tabur dengan bunga. Ternyata itu pun belum cukup, harus rela bangun lebih pagi untuk mengantar dagangan nenek ke beberapa warung agar dapat upah.
Sore itu penuh percaya diri walau dengan uang recehan aku datang lebih awal dari biasanya menunggu mbak ani, dengan bangga ku sampaikan ini adalah uang kekurangan tabungan kitab yang seharusnya sudah lunas. Senyum bijak lagi tak ada sinis sedikitpun mbak ani sampaikan bahwa tabunganku sudah lunas, ada donatur yang telah melunasinya. Seingatku donatur TPA waktu itu hanya ustadz dan ustadzah, lagi-lagi beliau mengajari bagaimana memberi tanpa tinggi hati bahkan memuliakan dalam arti memberi ikan untuk menutup kelaparan kemudian memberi kail untuk mencari ikan dan cukup sampai di situ.
Menjelang dan pasca lebaran idul fitri dan idul adha tahun ini situasi pembagian zakat maupun daging kurban nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya , ricuh, saling sikut dan (maaf) merendahkan harkat mustahik (penerima zakat). Celakanya para muzaki atau para dermawan yang membagi-bagi zakatnya penuh dengan senyum bangga dan menganggap hal itu mulia. Barangkali para muzaki ini termotivasi dari beberapa ustadz yang makin massif menyampaikan pahala dan keuntungan berzakat (bersedekah), tak bermaksud mendebat hikmah atau manfaat sedekah itu, bahkan saya juga percaya perihal pahala dan balasan yang berlipat. Tapi nampaknya kita lupa dengan cara/metode bersedekah tersebut, apakah akan bermanfaat bagi para mustahik atau bahkan perlahan memutus urat kemandirian mereka.
Entah trenyuh atau sakit hati saat melihat mustahik harus antri begitu panjang bahkan di bawah terik matahari, bahkan ada yang meninggal karena terinjak, seolah melihat wajahku berada di antara mereka. Apakah akan seperti itu terus tiap tahun nasib para mustahik? Hal yang hampir sama acapkali terlihat dalam pembagian Bantuan langsung Sementara Tunai (BLSM), bahkan lebih berat menerimanya karena nama-nama mereka  di umumkan terpampang nyata di kantor desa setempat dengan judul di bold besar Warga Miskin yang Mendapat BLSM. Terbayang apakah kepala ini bisa tegak jika namaku ada di daftar tersebut, apakah uang puluhan atau rausan ribu itu akan menjadi kail untuk mendapat ikan selanjutnya atau ia malah menjadi pisau tajam yang akan memutus urat kemandirian?
Bagai bulan merindukan pungguk memang jika berharap ada khalifah Umar bin khatab hadir di tengah-tengah kita karena ketaatan dan keimananku amat jauh dibanding umat beliau. Tengah malam berkeliling kampung memanggul gandum untuk di berikan pada warganya yang tak mampu. Namun tidak berlebihan kan jika sifat dan karakter mbak ani tadi ada di di dada dermawan dan pemimpin negeri ini? Jika kita tak mampu satu persatu mendatangi tetangga kita yang berada di bawah garis kemiskinan karena kesibukan atau ketidaknyamanan, kenapa tidak kita silaturahmi ke lembaga amil zakat dan sejenisnya yang bak jamur di musim semi hadir di setiap kota bahkan sampai kepelosok desa. Mereka sangat mahir menghimpun zakat lengkap dengan hitungan dan doa keberkahannya. Bahkan sangat tahu di mana mustahik yang masih menjaga kemuliaan/harga diri dengan menjauhkan diri dari meminta-minta dan memenuhi antrian pembagian zakat.
Jika kita tidak mampu/enggan bersedekah ada baiknya tidak kita putus urat kemandirian dengan meminta-minta. Tapi jika ingin mulia dengan bersedekah janganlah kita rendahkan saudara-saudara mustahik dengan mengumumkan kemiskinan dan ketidak mampuan mereka. Ada baiknya seperti guru ngajiku mbak ani, memberi dengan memotifasi bahkan menguatkan untuk terus berjuang menjadi mandiri dan bukan menjadi ketergantungan.
Seperti kupu-kupu yg datang bersama musim hujan, ia dulu seeokor ulat rakus memakan apa saja. Bukan hanya meminta tapi juga merampas. Tapi bahkan seekor ulatpun bisa bersabar dgn berpuasa/bertapa dgn taubat nasukha. Ia bersabar dalam menjada diri dari meminta dan memangsa apa saja dan hasilnya dapat kita lihat, kupu-kupu cantik yg menambah indahnya pergantian musim.
Saat pamit dan membayar makanan yang di pesan, ingin kusampaikan berjuta terimakasih pada mbak ani sayang bibir ini kelu hanya bisa bilang sotonya enak, absolutely uenak!!...