Minggu, 17 Agustus 2014
Arum Puspita: Singgasana Hotels & Resorts Pilihan Akomodasi Terb...
Arum Puspita: Singgasana Hotels & Resorts Pilihan Akomodasi Terb...: Ingin jalan-jalan di beberapa kota di Indonesia dengan pilihan akomodasi dan pelayanan nomor satu? Jatuhkanlah pilihanmu pada Singgasana Ho...
Jumat, 18 Juli 2014
Capresku sombong?
“Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam
hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.” Seorang laki-laki
bertanya :”Sesungguhnya ada seseorang yang menyukai supaya bajunya bagus dan
sandalnya bagus.” Nabi menjawab : “Sesungguhnya Alla itu Indah, Dia menyukai
keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.”
Jadi inget pilpres 2014 di Indonesia, jika sombong adalah
menolak kebenaran kira-kira kedua capres yg bertarung bak final piala dunia ini
apakah termasuk dalam kriteria sombong tersebut. Wallohualam bi showab. Mungkin
karena quick count dan real count versi partai nya yg ga bener jadi nampaknya
kedua capres belum termasuk sombong.
Di saat ramadhan seperti ini Alloh mengobral ijabah atas
doa-doa manusia di beriman yang berpuasa. Bagi yang merindukan pemimpin yang
dapat membedakan mana yang haq dan batil, pemimpin yang mengayomi rakyatnya dan
berusaha sepenuh jiwa raga mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Ayo jangan
sok menggurui untuk menerima kekalahan padahal perhitungan suara belum usai.
Berteriak lantang di curangi padahal tak punya bukti bahkan
saksi yg di bayar ratusan ribu pun tak membuat laporan di curangi. Hentikan mengaku
menang saat pertandingan belum usai, hentikan menyuruh mengaku kalah saat wasit
belum meniup peluit. Bahkan semenit sebelum adzan magrib pun dapat membatalkan
puasa jika kita mendahului berbuka.
Pojokan masjid As SYukur
Di 1/3 akhir Ramadhan
Jumat, 11 Juli 2014
Antara Pilpress, Rama dan Rahwana
Jika masih ingat kisah Rama dan Rahwana, kira-kira jawaban
apa saat ada pertanyaan kenapa Rama dan Rahwana berebut Sinta? Jawaban menggelitik
tentunya karena kulit Santi tak seputih Sinta hehe bukan gombalan ya.
Tatkala Rahwana jatuh hati pada Sinta menjadi keniscayaan
baginya untuk memiliki wanita lembut nan cantik bak gitar spanyol. Tak peduli
itu istri orang atau bukan, asal suka dibumbuin cinta buta kejar deh sampai
dapat, ini karena dulu blm ada lagu cinta tak harus memiliki. Sadar bahwa
wajahnya tak setampan Rama apalagi ariel noah, rahwanapun membuat aksi
tipu-tipu dengan menjelma menjadi kijang (bkn merk mobil). Jangankan sinta si
wanita ayu rupawan, anak kecil, muda tua yg lewat istana bogor hampir pasti
semua akan menepi ke pagar beli wortel dan sayuran lain untuk di jadikan umpan
agar kijang2 di istana mau mendekat.
Taktik Rahwana berhasil Sinta tergoda dan jatuh dipelukan
Rahwana yg berujud kijang, ini adalah gambaran kegigihan mempertahankan dan
meraih cinta, sayang cara yg di ambil salah. Tapi perlu di apresiasi usahanya
mendapatkan cintanya. ciee pesen moral. Segera setelah berhasil menculik Sinta
Rahwana langsung jumpa pers di Tugu Eifel berkacak pinggang mengepalkan tangan
dan teriak Merdekaaa mengumumkan kemenangannya.
Bak di sambar petir di siang bolong, Rama tahu istri
tercinta di culik Rahwana dan di bawa lari ke negri Alengka. Bumi gonjang-ganjing
langit kelap-kelap gunung meletus hutan terbakar oooo. Tanpa pikir panjang di
istana yang megah Rama pun menggelar jumpa pers tak kalah lantang berteriak
kepada pasukan kera “Segera Bumi Hanguskan Alengka jangan sampai ada secuil
rumputpun yg hidup di bumi alengka sekali lagi hanguskan Alengka dan rebut
kembali Sinta yg semlohai”.
Tak butuh 100% suara sah masuk, 60% sudah cukup bagi Rama
dan Rahwana mengumumkan kemenangannya mendapatkan Sinta. Seolah titah belum
selesai di tulis juru ketik pasukan kera yg dipimpin hanoman sudah siap siaga
dengan senjata lengkap membumi hanguskan alengka. Satu pesan yg lekat di kepala
hanoman tak sebatang rumputpun boleh hidup di bumi alengka. Benar adanya titah
dilaksanakan ia bumi hanguskan alengka hanya untuk merebut sinta dari tangan
rahwana.
Tak berdaya Rahwana membendung pasukan kera ia kalah telak
menurut quick count versi yg tertukar. Sinta kembali kepelukan Rama, apa daya
Rama sudah terlanjur terbakar api cemburu ia tak mau menerima sinta. Cium kaki sampai
sembah dari Sinta tak di Gubris oleh Rama permintaan maaf hanya dapat di
buktikan dengan upacara membakar diri. Jika terbakar maka Sinta tak suci lagi. Ibarat
lagunya didi kempot mabur tanpa sewiwi, njejak tanpa cutang n jajan tanpa bayar
loh???
Ternyata cinta yg terlalu bukan hanya membutakan rahwana,
Rama pun buta. Sinta yg dia rebut dengan membumi hanguskan alengka tidak ia
maafkan bahkan diminta membuktikan dengan membakar diri! Bumi gonjang-ganjing
langit kelap-kelap gunung meletus hutan terbakar oooo
Setali tiga uang dengan perhelatan pilpres di negriku
tercinta Indonesia raya. Peluit akhir belum di tiup KPU dua calon sudah
membusungkan dada sebagai wujud kesombongan dan keangkuhan atas kemenangan
tipis menurut survey yg tertukar. Kalau dua-duanya pengin menang saranku istana
di Indonesia kan banyak ada istana Negara, istana bogor, istana tampak siring
Bali pun juga istana giri bangun karanganyar. Silakan dipilih untuk kedua
pasangan capres yg mengaku menang. Bagi kamu pendukung pasangan capres 1 or 2
iya kamu… apakah seperti itu pemimpin dambaanmu. Semua ngaku menang semua
bilang data akurat berdebat kusir tanpa mau nunggu hasil factual kpu, ya robby
ternyata calon pemimpin Indonesia tak ubahnya Rama dan Rahwana, rahwana yg
buruk muka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sinta, rama yg sadis
membumi hanguskan alengka hanya untuk merebut sinta yg akhirnya juga tidak ia
beri maaf bahkan suruh bakar diri. Dan nampaknya kita salah pilih kawan…
Noted: tidak
ada maksud SARA terhadap agama apapun atas tulisan ini
Rabu, 18 Desember 2013
Melebur Kenakalan Pelajar Dengan E-Learning
Perilaku buruk dari
anak-anak dan remaja di beberapa kota di Indonesia akhir-akhir ini
cenderung meningkat, baik kuantitas maupun kualitas. Perilaku buruk
atau kenakalan tersebut berupa tawuran dan perilaku menyimpang remaja
di dunia online, maupun perilaku nyleneh lainya seolah bak jamur di
musim semi, tak ada habisnya. Intensitas pemberitaan yang aktual
menjadikan kenakalan remaja semakin menjadi perhatian serius. Upaya
pencegahan dan kuratif terhadap kenakalan tersebut bukan tidak di
lakukan, justru bervariatif dan melibatkan banyak pihak mulai dari
akademisi yang melakukan survey dan penelitian, guru dan orang tua
yang peduli dan perhatian, sampai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
bahkan telah megeluarkan semua kemampuan terbaiknya. Namun demikian
acapkali masih terlihat masalah pelik bagi penerus bangsa tersebut.
Di belahan dunia
manapun pendidikan adalah sarana untuk menyiapkan pemangku masa depan
di setiap jengkal lini bangsa yang berdaulat, adil dan makmur.
Artinya, remaja yang notabene adalah pelajar/siswa di sekolah
merupakan tunas-tunas bagi masa depan bangsa. Pendidikan yang benar, tepat dan bervisi tajam kedepan akan menjadi kunci hitam putihnya
kehidupan bangsa di masa yang akan datang.
Guru sebagai media
yang menjembatani ilmu dan pelajar, perannya sangat strategis dan
menentukan. Bagaimana guru mampu mengejawantahkan ilmu dalam
kehidupan nyata kemudian menyampaikannya kepada anak didik dan memastikan bahwa yang disampaikan di pahami sebagaimana mestinya.
Tidak cukup sampai disitu, akurasi memandang masa depan dan
mengantisipasinya dengan pembelajaran yang kritis, aktual dan
selangkah lebih di depan dari masa kini akan menghasilkan tunas-tunas
unggul bagi bangsa.
Media yang
menjembatani ilmu dan anak didik tentunya bukan hanya guru semata.
Fasilitas yang update dan melek teknologi akan menjadi sarana yang
memadai bagi terpenuhinya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
Electronic Learning (E-Learning) adalah cara baru dalam proses
belajar mengajar yang merupakan dasar dan konsekuensi
logis dari perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi.
Dengan E-Learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak
perlu duduk dengan manis di ruang kelas
untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru
secara langsung (Wikipedia.org).
E-Learning di
Indonesia saat ini baru populer pada kalangan berpendidikan tinggi. Hal ini tentu
akan membutuhkan effort yang lebih untuk menjadikan E-Learning
menjadi budaya, bukan hanya pada kalangan penduduk berpendidikan
tinggi karena faktanya bahwa pendidikan dasar 9 tahun dan 3 tahun
pendidikan menengah merupakan populasi terbesar peserta didik di
Negara agraris ini.
Hambatan pertama bagi
E-learning adalah (tanpa mengurangi rasa hormat saya), Guru. Hambatan
bukan dalam arti pola pikir dan kemampuan guru dalam mengajar, tetapi
lebih pada kondisi obyektif yang membuktikan bahwa Guru belum
mendapat perhatian lebih dari sisi kesejahteraanya. Mereka yang telah
mengabdi dengan segenap kemampuan yang dimiliki bahkan nyaris tanpa
pamrih demi masa depan bangsanya rela memberikan apa saja demi anak
didiknya. Walaupun di sisi lain ada ironi oknum Guru yang telah
mendapat fasilitas lebih untuk kesejahteraanya berupa sertifikasi dan
sejenisnya, tidak menjadikan sarana tersebut untuk mengupgrade
kemampuan diri tapi justru memenuhi hasrat gaya hidup hedonis.
Kembali pada pokok
persoalan, bahwa E-learning membutuhkan kemampuan guru dalam
pemutakhiran bahan ajar yang lebih sesuai dengan tuntutan
perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan begitu, tentu Guru harus mampu
menguasai tools E-learning agar dapat mendapatkan respect dari anak
didiknya. Hal ini tentu membutuhkan semacam pelatihan dari
professional, artinya kerja keras Guru yang sudah berjalan mesti di
tambah dengan beban untuk belajar lagi.
Bicara E-learning
tentu tak dapat di lepaskan dari teknologi informasi (baca IT), dan
pasti semua setuju ketersediaan dan daya dukung IT di Indonesia
sangat mudah di dapat semudah beli kacang goreng. Sehingga, model
E-learning apapun tidak akan menjadi kendala dari sisi fasilitas yang dibutuhkan.
Bagaimana dengan biaya? walau belum sepenuhnya berjalan tapi kita
tahu bahwa 20% APBN adalah porsi bagi pendidikan di Indonesia.
Pada akhirnya kita
akan menemukan fokus pertanyaan, bagaimana menarik added value dari E-learning
sebanyak-banykanya hanya dengan satu hambatan yaitu Sumber Daya
Manusia (SDM). Poin inilah yang menarik dan menimbulkan tantangan
yang tidak mudah di “jinakkan”. Namun bukan berarti mustahil, bahkan sangat mungkin mewujudkan E-learning dalam dunia pendidikan
dasar dan menengah di Indonesia. Anggap sebagai kesimpulan berikut, bagaimana kita meredam dengan mengalihkan hobi negatif kenakalan
remaja dengan E-learning yang menjangkau gejolak jiwa “berontak”
remaja lalu menjadikan ia haus dan lapar akan ilmu pengetahuan.
SDM yang merupakan
stake holder dari dunia pendidikan akan dapat memahami dan tergerak
sepenuh hati mengoptimalkan E-learning jika di berikan informasi yang
memadai dengan pendekatan yang tepat.
Edukasi kepada Guru
tanpa menggurui agar lebih melek teknologi akan menghilangkan
beban tanggung jawab dan justru akan melecut semangat untuk lebih
mengabdi pada ilmu pengetahuan melalui dunia yang berbeda dari jaman
ketika beliau-beliau mendapatkan ilmu di bangku sekolah yang pada jaman tersebut dunia maya sangat asing di Indonesia.
Dengan pasti dan tanpa
dapat di manipulasi ketika melakukan pretest maupun bentuk ujian lain
yang secara otomatis dapat melihat ”nilai” dari peserta didik
dengan sangat obyektif dan saklek tanpa melihat subjeknya tentunya akan menambah keakuratan database suatu pembelajaran.
Peserta didik dapat
menunjukkan bakat lain selain nilai exacts melalui forum
tertentu (social media E-Learning) yang lebih dominan dalam
penyampaian argumentasi-argumentasi ilmiah dalam bidang ilmu sosial.
Dimana ada poin tertentu ketika aktif dan memiliki akurasi
keilmiahan.
Dengan kemasan yang
edukatif dan mengadop media soial yang makin marak di kalangan remaja
akan membuat snowballing effect pelajar pada kecanduan ilmu
pengetahuan di dunia maya dan perlahan tapi pasti meninggalkan
kebiasaan buruk kenakalan remaja.
Kamis, 12 Desember 2013
Inget Hari Ibu
Pagi yang cerah penuh keindahan, senyuman seorang ibu
selalu lebih menentramkan dari indahnya cuaca pagi. Kupacu motor kesayangan yg
sudah 3 tahun setia mengantarkan tubuh ini mengais rejeki dengan doa tulus
seorang Ibu. Jalanan pagi nampak mulus semulus kasih sayang pemilik surga di
telapak kakinya, tak lupa terimakasih pada pejabat daerah yg telah menuntaskan
masalah jalanan berlubang sejak lebih 3 tahun silam tak terjamah perbaikan.
Nikmatnya perjalanan pagi terganggu, risi rasanya saat
beberapa pengendara lain bergantian memencet klakson seenak hidungnya hanya
karena seorang wanita dengan motor butut membonceng dua keranjang (bronjong dlm
bhs jawa) di sisi kiri kanan bagian motor belakang. Dari jarak 9m di sela-sela
pegendara di depan kuamati isi dari keranjang tersebut penuh dengan sayuran,
bumbu dapur, kerupuk, beberapa bungkus daging dan ikan juga jajanan pasar.
Lidah dan mata ini tertuju pada jajanan pasar yg
tergantung dan tertata rapi di keranjang motor yg kini tepat di depan motorku.
Getuk lindri, klepon ada juga onde-onde menjadi menu utama dan sering hadir di
setiap sarapan pagiku, prasangka di hati berkata bahwa dari ibu dengan motor
bututnya yg tepat di depanku ini jajanan tadi dibeli. Kutambah kecepatan
motorku untuk mendahului pedagang sayur keliling itu, rasanya ada bagian hatiku
yg teriris saat kulirik wanita setengah baya tersebut selain menuhin motornya
dgn barang dagangan juga memangku gadis kecil berseragam TK.
Semakin teraduk empati kupastikan dari kaca sepion
sebelah kanan, senyum penuh semangat nan innocent
terpampang dr wajah gadis kecil berusia kira-kira 5 tahunan yg amat menikmati
perjalan ke sekolahnya di pangkuan bunda dan tumpukan komoditas dapur. Di lihat
dari seragam anaknya dan cara berpakaian wanita penjaja sayur tersebut ku
pastikan pengetahuan agamanya mumpuni. Sembari menambah kecepatan kusempatkan
sekali lirikan masih dari sepion kanan, tergantung rapi nan menggoda untuk di
beli beberapa jenis minuman pasar seperti susu kedelai, dawet dan semacam jamu.
Entah jamu galian singset atau merk lainya aku tak tau karena persis ku amati
tak logo atau merek di bungkus plastic tersebut.
Rangkain pikiran penuh tanya menjalar di sisi otak
kananku, kira-kira jam berapa wanita penjaja sayur itu bangun dari tidurnya,
menuju pasar melewati jalan gelap, memenuhi keranjang dengan aneka dagangan,
tak lupa tawar menawar harga dengan pengepul sayuran lalu pulang melewati jalan
yg entah berapa ratus atau bahkan ribu kali di lewati lalu membangunkan anak
gadisnya yg TK, mengantarnya sekolah dan entah berapa banyak aktivitas lain yg
tak terpikirkan. Dan hampir saja lamunanku akan berakibat fatal karenahanya
hitungan cm motorku berpapasan bis yg terkenal dgn ugal-ugalannya nyaris
berserempetan.
Tergiang kisah sahabat yg bertanya pada nabinya, “Dari
Abu Hurairah radhiyallaahu
‘anhu, belia berkata, “Seseorang
datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai
Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu
‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya,
‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’
Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab,
‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR.
Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)”
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat
baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah
kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs.
Luqman : 14).
Entah apa yg melatar belakangi konggres wanita 85 th
silam di Negara tercinta Indonesia, kini di abadikan menjadi Hari Ibu di salah
satu tanggal di bulan Desember, yang jelas dapat ku artikan menjadi pengingat
agar tiap saat tak lupa kita panjatkan “Allahummaghfirli waliwalidayya warkhamhuma kamaa rabbayani saghira”.
Dengan takzim ku sampaikan I Love you too Ibu,
dan engkau selalu punya I Love you more
selamat hari IBU
Rabu, 30 Oktober 2013
Kupu-kupu di Penghujung Kemarau
Menikmati akhir pecan di
penghujung musim kemarau dengan menjajal soto di warung yang terletak di ujung
kampung. Surprise banget saat tau si
empunya warung ternyata mbak Ani, guru ngajiku semasa kecil. Kikuk awalnya
menerima sajian soto dari orang yang sangat kuhormati, namun sikap dan tutur
kata beliau yang ramah nan bersahabat menjadikan obrolan kecil menjadi begitu
hangat. Ternyata satu dekade merantau membuatku tak begitu care dengan sesama warga kampung, dulu begitu hafal nama-nama warga
dari ujung satu ke ujung kampung lainya, aku pasti tau dan mengenalnya. Kini
guru ngajipun aku tak tahu kalau beliau punya rumah dan warung di ujung desa. Karena
warungnya cukup ramai tak banyak pembicaraan di pagi yang membawa kupu-kupu
indah hadir di bumi tercinta.
Begitu mbak ani meninggalkanku dengan
semangkok soto, pikiranku seolah terbang ke masa kecil dulu, masih teringat dengan
jelas saat beliau memarahiku karena sering terlambat. “sak jane dirimu iku
pintar tapi kok ya telat ae kalau ngaji” tak berani kutatap wajah dari pemilik
kalimat itu, sembari menunduk malu lagi takut dalam hati bergumam bahwa aku
terlambat karena harus menggembala kambing punya kakek. Jika bulan agustus tiba
dulu biasa di TPA tempat mengaji dulu
akan di gelar bermacam-macam lomba, mulai dari lomba adzan, hafalan sampai
cerdas cermat dll. Herannya setiap perlombaan yang aku ikuti pasti menjadi
pemenang walau tidak mesti no 1 setidaknya masuk 3 besar. Otomatis hadiah
berupa buku dan peralatan tulis lainya sebagian besar menjadi hakku.
Namun lambat laun aku mengerti,
bahwa kemenangan dalam lomba-lomba tersebut bukan karena kecerdasanku. Nyatanya
sebagian besar teman ngaji dulu saat SMA berhasil masuk di SMA favorit
sedangkan diriku hanya di SMA biasa itupun harus menunggu satu tahun agar
kakakku lulus dulu dari sekolahnya. Ternyata hadiah-hadiah yang kudapat
tersebut diperoleh karena aku tak mampu membeli peralatan baca tulis seperti
teman-teman lainya, karena untuk perlengkapan sekolah saja seringkali kupakai
bekas dari kakak atau tetangga sebelah. Entah bagaimana mbak ani tau keadaan
ekonomiku yang pas-pasan, juga tak tau bagaimana cara ia memenangkanku dalam
perlombaan itu.
Daerah tempat tinggal kami memang
bukan daerah santri, justru dikenal dengan sebutan abangan yang orang umum
mengartikan status islamnya hanya sebatas KTP dan seringkali menjadi joke kelak di hari akhir banyak ktp di
surga tapi orangnya entah dimana. Saat para santri akan lulus dari juz amma
(bukan juz ke 30 dari al quran) tetapi semacam buku iqra kalau sekarang, maklum
karena dulu tidak ada dana untuk membeli buku pengantar anak-anak membaca al
quran. Pilihan terbaik adalah guru ngaji (ustadz/ah) menuliskan contoh di papan
tulis untuk di salin santri dan bergantian membacanya (anak alay sekarang pasti
akan bilang “kacian banget”).
Inisiatif dari mbak ani yang
mengharuskan para santri menabung agar kelak saat dapat membaca al quran kami
juga mampu membelinya. Saat ini mungkin sebagian kita tak butuh nabung sekian
bulan untuk dapat membeli al quran, mungkin juga tidak lebih mahal dari uang
jajan anak SD satu atau dua minggu, tapi masa kecilku dulu berbeda. Al quran
ibarat barang mewah, bagi kami butuh perjuangan untuk memilikinya. Saat tiba
kami dapat mengeja dan membaca al quran para santri penuh harap dan tidak sabar
ingin memegang dan membaca ayat-ayat suci firman Allah dalam kitab yang hanya
dengan menabung tadi dapat terbeli. Pada waktu pembagaian al quran aku tak
seantuisias dan sesemangat teman-teman yang lain, karena sadar tabunganku belum
cukup untuk menebus kitab itu, kalau tidak salah ingat 4 atau 5ribu
kekurangannya.
Mendengar dan melihat riuh ramai
para santri aku terdiam di pojok barisan belakang, ingin rasanya berlari pulang
minta uang ke Ibu di rumah, tapi tak kulakukan karena tahu jangankan uang,
beras untuk di masak sore itu pun belum tentu ada, sedangkan ayah sedang jauh
di kota lain bekerja keras memeras keringat menjemput rejeki. Dan teman
sekaligus tetangga depan rumah sudah berjanji akan meminjamkan kitabnya saat
aku nanti mendapat giliran membaca, jadi kuputuskan bersabar duduk diam agar
tak ada seorangpun tau kalau tabunganku belum lunas. Di tengah kegalauan hati
tiba-tiba seperti mendapat durian runtuh saat namaku di panggil mbak ani untuk
di beri kitab yang sudah lama kuimpikan tersebut. Sengaja kuterima kitab itu
dengan senyum dan tidak memberitahukan kepadanya kalau tabunganku belum lunas
karena takut kalau ketahuan bakal tidak dikasih kitabnya.
Begitu halus dan mulia caramu
menyembunyikan aib kemiskinan salah satu muridmu ini, memberikan sedekah
dibalut hadiah prestasi. Kemulian hati menempatkan tangan di atas lebih baik
dari pada memasang tarif saat membagi ilmu yang akhir-akhir ini santer
terdengar. Karena kemurahan hati itu setelah menerima kitab aku berjanji dalam
hati akan melunasinya, dari uang saku sebesar 100 rupiah itupun seminggu sekali
diberikan orangtuaku saat ada mata pelajaran olah raga, kusimpan baik-baik di
bawah bantal. Di tambah aktif ikut takziah mengantar jenasah yang di pikul aku
selalu berada dekat pada yang menaburkan bunga di sepanjang jalan kearah
kuburan, akan dengan sigap ku ambil recehan yang di tabur dengan bunga.
Ternyata itu pun belum cukup, harus rela bangun lebih pagi untuk mengantar
dagangan nenek ke beberapa warung agar dapat upah.
Sore itu penuh percaya diri walau
dengan uang recehan aku datang lebih awal dari biasanya menunggu mbak ani, dengan
bangga ku sampaikan ini adalah uang kekurangan tabungan kitab yang seharusnya
sudah lunas. Senyum bijak lagi tak ada sinis sedikitpun mbak ani sampaikan
bahwa tabunganku sudah lunas, ada donatur yang telah melunasinya. Seingatku
donatur TPA waktu itu hanya ustadz dan ustadzah, lagi-lagi beliau mengajari
bagaimana memberi tanpa tinggi hati bahkan memuliakan dalam arti memberi ikan
untuk menutup kelaparan kemudian memberi kail untuk mencari ikan dan cukup
sampai di situ.
Menjelang dan pasca lebaran idul
fitri dan idul adha tahun ini situasi pembagian zakat maupun daging kurban nyaris
sama dengan tahun-tahun sebelumnya , ricuh, saling sikut dan (maaf) merendahkan
harkat mustahik (penerima zakat).
Celakanya para muzaki atau para
dermawan yang membagi-bagi zakatnya penuh dengan senyum bangga dan menganggap
hal itu mulia. Barangkali para muzaki
ini termotivasi dari beberapa ustadz yang makin massif menyampaikan pahala dan
keuntungan berzakat (bersedekah), tak bermaksud mendebat hikmah atau manfaat
sedekah itu, bahkan saya juga percaya perihal pahala dan balasan yang berlipat.
Tapi nampaknya kita lupa dengan cara/metode bersedekah tersebut, apakah akan
bermanfaat bagi para mustahik atau bahkan perlahan memutus urat kemandirian
mereka.
Entah trenyuh atau sakit hati
saat melihat mustahik harus antri
begitu panjang bahkan di bawah terik matahari, bahkan ada yang meninggal karena
terinjak, seolah melihat wajahku berada di antara mereka. Apakah akan seperti itu
terus tiap tahun nasib para mustahik? Hal yang hampir sama acapkali terlihat
dalam pembagian Bantuan langsung Sementara Tunai (BLSM), bahkan lebih berat
menerimanya karena nama-nama mereka di
umumkan terpampang nyata di kantor desa setempat dengan judul di bold
besar Warga Miskin yang Mendapat BLSM. Terbayang apakah kepala ini bisa tegak
jika namaku ada di daftar tersebut, apakah uang puluhan atau rausan ribu itu
akan menjadi kail untuk mendapat ikan selanjutnya atau ia malah menjadi pisau
tajam yang akan memutus urat kemandirian?
Bagai bulan merindukan pungguk
memang jika berharap ada khalifah Umar bin khatab hadir di tengah-tengah kita
karena ketaatan dan keimananku amat jauh dibanding umat beliau. Tengah malam
berkeliling kampung memanggul gandum untuk di berikan pada warganya yang tak
mampu. Namun tidak berlebihan kan jika sifat dan karakter mbak ani tadi ada di
di dada dermawan dan pemimpin negeri ini? Jika kita tak mampu satu persatu
mendatangi tetangga kita yang berada di bawah garis kemiskinan karena kesibukan
atau ketidaknyamanan, kenapa tidak kita silaturahmi ke lembaga amil zakat dan
sejenisnya yang bak jamur di musim semi hadir di setiap kota bahkan sampai
kepelosok desa. Mereka sangat mahir menghimpun zakat lengkap dengan hitungan
dan doa keberkahannya. Bahkan sangat tahu di mana mustahik yang masih menjaga kemuliaan/harga diri dengan menjauhkan
diri dari meminta-minta dan memenuhi antrian pembagian zakat.
Jika kita tidak mampu/enggan
bersedekah ada baiknya tidak kita putus urat kemandirian dengan meminta-minta.
Tapi jika ingin mulia dengan bersedekah janganlah kita rendahkan saudara-saudara
mustahik dengan mengumumkan
kemiskinan dan ketidak mampuan mereka. Ada baiknya seperti guru ngajiku mbak
ani, memberi dengan memotifasi bahkan menguatkan untuk terus berjuang menjadi
mandiri dan bukan menjadi ketergantungan.
Seperti kupu-kupu yg datang
bersama musim hujan, ia dulu seeokor ulat rakus memakan apa saja. Bukan hanya
meminta tapi juga merampas. Tapi bahkan seekor ulatpun bisa bersabar dgn
berpuasa/bertapa dgn taubat nasukha. Ia bersabar dalam menjada diri dari
meminta dan memangsa apa saja dan hasilnya dapat kita lihat, kupu-kupu cantik
yg menambah indahnya pergantian musim.
Saat pamit dan membayar makanan
yang di pesan, ingin kusampaikan berjuta terimakasih pada mbak ani sayang bibir
ini kelu hanya bisa bilang sotonya enak, absolutely uenak!!...
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


